9701639593031899
Bookmark

JPSP FKIP ULM Pentaskan “Sang Ratu”, Angkat Kisah Kepahlawanan Ratu Zaleha

Visitbanjar.com, BANJARMASIN - Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan (JPSP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menggelar pergelaran seni tahunan bertajuk Sendratasik Berkarya untuk ke-15 kalinya.

Pergelaran dibuka secara resmi oleh Ketua JPSP FKIP ULM, Muhammad Budi Zakia Sani, serta dihadiri dosen dan mahasiswa JPSP, tamu undangan, dan pegiat seni. Acara diselenggarakan di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Sabtu (3/1/26) yang digelar dalam dua sesi, yakni sesi siang pukul 15.00 WITA dan sesi malam pukul 19.45 WITA. 

Pergelaran kali ini mengangkat kisah pahlawan perempuan Kalimantan Selatan, Ratu Zaleha, melalui kolaborasi seni tari, drama, dan musik berjudul “Sang Ratu.”

Pementasan Sang Ratu merupakan luaran dari mata kuliah Pergelaran Seni yang diampu oleh tim dosen JPSP FKIP ULM, yakni Sulisno, Putri Yunita Permata Kumala Sari, dan Novyandi Saputra.

Pertunjukan ini dimainkan sepenuhnya oleh mahasiswa JPSP sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik.

Pementasan Sang Ratu mengisahkan pergolakan batin dan kondisi psikologis Ratu Zaleha sebagai seorang perempuan pejuang yang harus menghadapi ketakutan dan kecemasan pasca pengasingannya ke Bogor. Ketakutan tersebut digambarkan sebagai konflik batin antara realitas dan pikiran negatif yang belum tentu terjadi. Cerita dikemas dengan memadukan konflik sejarah, lintasan masa lalu, serta relevansinya dengan kondisi masa kini.

Tokoh Ratu Zaleha diperankan oleh Raisa Hafizatil Azkia dan disutradarai oleh Muhammad Azmi Arief, dengan dukungan penari, pemusik, serta para pemeran yang merupakan mahasiswa peserta mata kuliah Pergelaran Seni. Kolaborasi lintas disiplin seni tersebut menghasilkan sajian pertunjukan yang memadukan unsur tari, musik, teater, dan seni pertunjukan lainnya secara harmonis.

Pemimpin produksi pertunjukan, Muhammad Samad Ilham mengatakan Sendratasik Berkarya bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga bentuk dedikasi terhadap ekosistem seni.

“Sendratasik Berkarya menjadi ruang kolaborasi, ruang silaturahmi antar penggiat seni, sekaligus ruang bertukar pikiran. Harapannya kegiatan ini bisa memberi manfaat, tidak hanya bagi kami sebagai penyelenggara, tetapi juga bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam penyelenggaraan maupun sajian pertunjukan. Namun, sebagai bagian dari proses pembelajaran, pihaknya terbuka terhadap masukan dan evaluasi demi peningkatan kualitas pergelaran seni di masa mendatang. (Ilh)

Posting Komentar

Posting Komentar